Antagonis vs protagonis

Posted: 12 Juni 2016 in cerpen fiksi

Padah jaman dahulu sekali saya jadi tokok antagonisnya, jadi tokoh jahatnya biar tokoh protagonisnya muncul. Ah drama apa lagi ini, no more drama okay ?
Saya dianggap penjahat karena berusahan menjaga nama baik orang lain, dan saya deh jadi sasaran. Entahlah… apa perspektif kita berbeda atau apa.
Ah lupakan , buat apa menampung kenangan itu.
Seingatku dlu aku pernah beberapa hari tidak tidur untuk seseorang. Bukan bermaksud mengungkit ‘kebaikan’ diri sendiri tapi saya rasa cukup bagus ditulis.
Anggap saja sebagai tanda minta maaf karena sudah lari-lari🙂
Dengan semua asumsi yg ada, bolehkah saya ganti peran jadi tokoh protagonisnya ?
Saya udah tepati janji saya soal “dari keringat sendiri”, meski toh selesai saya ikhlas dan tak memintanya kembali.
Saya udah tepati janji agar segera bisa ujian, toh skrg janji saya tepat skrg udah lulus dan pulang ke kampung halaman.

Saya udah malas jadi antagonis, stok sabar saya udah mulai menipis ketika harus tersenyum dan mengelus dada mendengar berita yg tdk benar.
Gmn kalau skrg saya jadi Iron Man nya? Jadi pahlawannya kayak tony stark, atau kembali lagi menjadi bukan siapa2, menjadi kulit bawang yang semakin dikupas kamu tahu bahwa tidak ada apa2 nya.
Saya tetap manusia biasa yang punya banyak kekurangan.
Soal mampu menampung kekurangan atau tidak tergantung masing2.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s