Ideologi terbentur Realitas

Posted: 7 September 2016 in Diskusi

ah saya mau cerita dari mana nih. narasi aja deh. jadi sepulang kerja saya ke UIN lagi. mampir sholat Isya’ lalu ke gedung B.

saya sudah sampaikan ke adek saya mengenai ini. tujuannya agar kita bisa berdiskusi dan sama2 membangun yang lebih baik. Adek saya Rachmad Imam Tarecha dulu Pernah Jadi ketua nya Inovasi. ukm pers mahasiswa. coba baca ini sebentar. silahkan klik untuk diperbesar. saya dapat dari gedung B. tentu sebagai lembaga yang bisa mengkritik orang lain melalui medianya, inovasi semoga menerima dengan terbuka saran dari para pembacanya.

Q-Post

Q-Post

ya ini adek2 kita perlu belajar untuk membuat berita yang sesuai kode etik . sudah ketemu apa yang kurang sesuai ? menurut hemat saya . berita itu kurang mengakomodirboth side stories. cerita menurut 2 versi. kan kita gk boleh hanya ambil dari 1 versi saja.

menirukan ucapan

menirukan ucapan

jadi yang diambil sebagai nara sumber A (saiful) yang mendengarkan bahwa B ( Triasih) mengatakan bahwa “Kalau semisal dihitung per bulan bla bla bla”. ini kan berarti wartawan mendengan gosip lalu ditulis ulang tanpa ada upaya konfrontir penyataan tersebut kepada pihak B apakah benar mengatakan hal tersebut. adik saya mengatakan hal tersebut adalah hal yang lumrah sebagai contoh link berita kompas tersebut  http://internasional.kompas.com/read/2016/07/26/13083631/heru.ungkap.keluhan.taufik.yang.tak.diketahui.ahok . saya katatakan harus dikonfrontir apakah benar mengatakan pernyataan A B C dan gimana kalau ternyata gk bilang seperti itu ? dan jawabannya ya gak valid beritanya. ya sebagai media memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran, jangan sampai berita bohong disebarkan.. harus crosh cek dahulu.. jangan sampai ikut menyebarkan fitnah dengan perisai kalau nanti salah bisa dikonfirmasi dengan hak jawab,, tentu bisa jadi setelah berita yang tidak valid tersebar lalu ada ralat beritanya.. belum tentu orang yang sudah membaca berita bohon tersebut membaca ralatnya kan ? …. yang penting booming dan seperti kebanyakan jargo. bad news is good news. mana kode etik yang mengcover both side sehingga media harusnya tidak memiliki tendensi untuk mempengaruhi opini publik. berikan pembaca berita yang benar, valid, sesuai fakta tanpa tendensi. biarkan pembaca sendiri yang memutuskan atau menilai mengenai respon terhadap berita tersebut apakah setuju atau tidak. jangan menjadi media yang memasukkan tendensi2 tertentu untuk mempengaruhi opini publik kalau tidak nanti seperti m*tro tv dan tv on*e. media yang menurut hemat saya satunya bertendensi pro pemerintah karena pemilik tv nya orang partai pendukung pemerintah yang satunya bertendensi sebagai oposisi pemerintah karena pemiliknya jadi orang oposisi pemerintah.jadi kedua media itu kerjaannya sibuk menggiring opini publik, bukannya memberikan berita yang berimbang dan mencerdaskan. sekali lagi ini menurut hemat penulis ( saya ) dan saya tidak sedang mempengaruhi opini anda agar setuju dengan saya.  jadi media hanya sebagai alat saja untuk mencapai tujuannya sendiri padahal media memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran. kebenaran akan tetap jadi kebenaran bagaimanapun kondisinya. bukan benar menurut A atau benar menurut B yang relatif. kalau mau merujuk bisa merujuk kode etik berikut http://dewanpers.or.id/peraturan/detail/190/kode-etik-jurnalistik

c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.

Pasal 3

Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran

a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.

b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.

c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.

d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

 

silahkan dibaca sendiri di link dewan pers tersebut, yang perlu saya beri saran adalah setiap pernyataan harus dikonfrontir , check and recheck kepada kedua belah pihak. kalau cuman mendengar si B bilang “X” ke A dan dijadikan A sebagai nara sumber tanpa konfrontir itu sih namanya gosip. harusnya B juga dijadikan nara sumber agar berimbang kan ?

 

dan yang kedua soal Caping selebrasi yang terkesan mahal.

judulnya menggunakan terkesan dimana kata tersebut adalah kalimat pendapat bukannya kalimat fakta. hal ini menurut hemat saya adalah memasukkan opini pribadi. kita tahu benar soal mahal dan murah adalah relatif. lalu dalam berita harga caping yang dijual oleh kopma adalah 17 ribu dengan bandingan pendapat narasumber rizki gak sampai sepuluh ribu di tempat tinggalnya. lalu dibandingkan lagi dengan “Laporan Hasil Observasi usaha capil Magetan / Capil Gunung di Kabupaten Magetan” yang ditulis oleh Nufitria Rahma Nugraheni. yang tidak disebutkan laporan tahun kapan ( harga kan fluktuatif) dan tempat harga tersebut antara 8 ribu sampai 28 ribu rupiah adalah di magetan bukan di malang beda tempat ya. bisa saja dengan ukuran dan kualitas caping yang sama bila beli di malang bisa lebih mahal dari 17 ribu. apakah ingin mahasiswa agar harga caping tidak terlalu mahal bisa beli di magetan saja ? tentu tidak kan.  bisa menggunakan saran ini agar apple to apple pembandingnya pas.

  1. beli topi yang ukuran dan kualitasnya sama persis dengan yang dijual kopma di kota malang dengan pembelian 1 unit topi caping ( iya lah wartawan harus usaha tahu, bukan menyadur saja. paling tidak tanya harganya apalagi narasumber Marzuki sudah mempersilahkan untuk mengecek ke pasar2 harganya segitu namun tidak dilakukan oleh wartawan sebagai data pembanding ). setelah tahu harganya misal kalau beli sendiri di malang tanpa ke kopma 13 ribu. yang artinya selisih yang dijual kopma lebih mahal 4 ribu. sehingga judulnya bisa lebih berdasarkan fakta bahwa topi caping selebrasi lebih mahal dari harga pasar 4 ribu rupiah. ini kalimat fakta.
  2. Setelah tahu misal lebih mahal / lebih murah lalu diinformasikan lagi ke pembaca bahwa bila beli topi caping ini di sebelah pasar besar atau dimana yang kalau pergi kesana jaraknya 10 km misal, atau butuh naik angkot 2 kali PP. kalau angkot 2 x 4000 = Rp 8.000 dan butuh waktu perjalanan 1 jam. sehingga pembaca bisa tahu perbedaan harga 4 ribu ini sebading tidak dengan waktu dan ongkos angkot yang dikeluarkan. biarkan pembaca berfikir dan memutuskan. ini sekadar contoh agar apple to apple. bandingkan apel dengan apel. jangan apel dengan durian.

jadi dengan begini unsur opini dan tendensi dari penulis bisa dikurangi dengan menghadirkan fakta memang harga capingnya lebih mahal X rupiah namun bila mahasiswa mau beli sendiri dengan harga 13 ribu kalau naik angkot 8 ribu. dan itu harga yang ditanggung mahasiswa. kita sendang menguji harga yang harus dikeluarkan mahasiswa bukan keuntungan yang diterima pihak penjual caping ya. misal kopma beli 2000 caping itu keuntungannya berapa ? lalu kan karena beli banyak harusnya harga lebih murah untuk dijiual ke mahasiswa harusnya gk sampai 17 ribu sehingga harusnya tidak ada yang mengeluh terkesan mahal karena sama dengan harga di tempat tinggalnya itu different case.

lalu yang diwawancarai jangan cuman Rizky Herdianto saja yang mengeluh lebih mahal, coba cari juga mahasiswa yang menganggap harga 17 ribu itu wajar, lalu cari juga mahasiswa yang nganggap itu harga yang murah. sehingga beritanya berimbang. kalau saya baca sih si penulis berusaha menggiring opini bahwa harga capingnya terkesan mahal .entah memiliki tendensi apa. I don’t know. dan saya sendang tidak ingin menggirin opini pembaca yang membaca tulisan ini yak. gk boleh suudzan🙂

 

oke setelah itu saya jalan ke gedung B ketemu mas nafi.

 

pendengar

pendengar

kali ini saya dengan sengaja ke UIN, sholat di masjid dan duduk2 di gedung B. Kali ini disamperin mas nafi yang mengajak saya duduk dalam diskusi LKP2M. ya ini lembaganya Ustadz Diny guru PKPBA saya yang sampai sekarang tetap silaturrahim dengan beliau. saya tanya ini kegiatan apa. katanya diskusi. ya udah ikut aja. tujuan utama ke uin kan mampir sholat Isya’. Pembahasannya mengenai Tasawuf yang saya sama sekali tidak mengerti dan kali ini jadi pendengar… dan juga saya tertidur di sana. membahas hal yang diawang2 soal filsafat tasawuf dll yang saya tidak mengerti juntrungannya. aplicable atau tidak. ya lumayan dapat tahu petis, dikasi ya alhamdulillah. Ini rejeki. lalu saya pasang BBM foto ini dan di bbm sama kak Ira, mau del contact ya gimana biar kegiatan saya gk diketahui dan akhirnya salah posting pakai segaram kerja atau mau bilang saya udah kerja dan bukan anak semester 1 juga bingung. maaf kak ini dilema. saya tidak suka berbohon tapi saya terpaksa. lebih baik tidak tahu kalau dibohongi kan ? nanti juga seminggu lagi udah lupa. oh ya seminggu lagi nikahannya luluk

Jpeg

Jpeg

saya agak bingun dengan LKP2M ini. yang dibahas apa sih,. tasawuf. trus filsafat. trus aplikasinya dalam kehidupan mahasiswa apa . kalau hemat saya mahasiswa diajak mikir yang berat2 dan ada banyak istilah yang menurut saya sulit namun mau diaplikasikan dalam kehidupan sehari2 itu sulit. kayak mikir di awang2. saya ngantuk dan akhirnya tertidur sebentar di diskusi itu. yang kakak pakai topi itu saya pernah lihat waktu saya semester 1 dan pernah ikut juga kajian LKP2M dengan Hudan Mudhorishofa… diajak dia …. yang saya ingat waktu itu juga mbahas yang gk jelas juga. mungkin karena kapasitas otak saya juga gak nyampai.

lalu akhirnya kak ira bilang minta orang2 di lkp2m ada yang ke warkop albar, aku bilang sek lama kykx. ya udah sekalian pulang saya mampir. mulai lapar. sekalian saja. setelah sampai di warkop saya pesan milo.. ya saya suka kalau gk teh ya susu coklat. eh kak ira dan temannya sedang mengerjakan yang psikotes yang tambah2 an. krepelin atau apa gitu pokoknya psikotes saat saya tes2 kerja dulu. wah kita ngobrol. saya bantu ngejain juga tapi sendikit. disana cman berisi obrolan2 yang sedikit banyak mengintrogasi aku dan saya mencari kunci jawaban bohong apa lagi nih. terpaksa dengan berat hati aku berlagak bego childish dan semua yang memungkinkan bahwa saya dianggap saya sebagai anak semester 1 , perilaku, sikap tubuh, mimik muka. persis saat saya main teater di smp. saya best actor loh. muji diri sendiri. ada temannya yang mulai curiga. saya tanya2 soal bagimana alat pendeteksi kebohongan, micro ekspresi seseorang waktu bohong. dah saya ada di depan mereka dan mereka tidak sadar. padahal saya sudah kasi clue. maaf ya. seminggu lagi mereka juga akan lupa.

 

oh ya ini inti dari posting ” Ideologi terbentur Realitas ”

ada satu kalimat yang saya bbm kan ke kakak ira gini

“Nanti seiring waktu kalian akan memahami bahwa ideologi apapun akan  terbentu dengan realitas dunia nyata. Pada saat itu kebenaran sebua ideologi uang selama ini diperjuangkan akan teruji kebenarannya”

sebenarnya ini sedikit untuk merangsang cara berfikir kakak ira yang aktif di organisasi mengenai relaitas dunia nyata saat setelah meninggalkan dunia kampus. penjelasannya kalau dijabarkan kira2 seperti ini. Ideologi2 yang kita perjuangkan saat di dunia kampus biasanya diceritakan hanya sisi baiknya saja, kebenarannya saja namu tidak dalam “prakteknya” dalam kehidupan. saya beri contoh yang saya pikirkan. sesuai kapasitas otak saya. tentu ada kemungkinan bahwa ada kesalahan mohon di ingat kan. correct me if i’m wrong.

Mahasiswa berdemo memperjuangkan pendidikan di kantor dinas malang agar siswa2 yang kurang mampu diberi beasiswa, keringanan, bla bla bla. lalu kepala dinasnya di demo dan memberikan pernyataan bahwa akan di bantu dll. ini kejadian nyata saya diceritani orangnya sendiri. saya tidak sebut nama sehingga tidak seperti yang saya sarankan ke inovasi diatas ketika menyadur pernyataan harus dikonfrontir. agak susah saya mengkonfrontir ke kepala dinas yang juga pada saat demo itu saya tidak tahu skrg orangnya kemana. tapi yang saya mau ambil adalah sudut pandang bahwa. Bagaimana orang yang IP nya satu koma, lulusnya lama, bermasalah dengan akademiknya sendiri berteriak2 memperjuangkan nasib orang lain yang belum tentu terbantu dengan demonstrasi tersebut namun tidak bisa memperjuangkan pendidikan dirinya sendiri ? bagaimana mengatakan sesuatu yang tidak dilakukan. memperjuangkan pendidikan kaum proletar, namun kuliah sendiri kocar kacir. kan gk kompatibel toh. tentu memang tidak ada yang melarang demo, saya juga dulu demo. tapi juga saya tahu apa yang saya demokan. waktu itu saya demo PKPBA bahwa aturan PKPBA mewajibkan semua mahasiswa buat makalah bahasa arab yang dimana kemampuan tiap mahasiswa tidak sama. saya contohnya. kalau buat kalimat saya bisa. kalau buat paragraf atau makalah ya saya tidak mampu. saya menyuarakan bahwa jangan idealis karena kemampuan tiap orang berbeda dan ingin semua sama. kelas kami 3 yang maju. saya hudan dan pras pras ini yang akhirnya jadi ketua DEMA / BEM di uin pas 2012 klo gk salah. kami memperjuankan yang benar2 ketika kita perjuangkan itu bisa dirasakan efeknya atau lingkarannya tidak terlalu jauh dari kami. kalau antitesis nya. apakah temen2 HMI merasa dan mengira ketika demo membakar ban di spbu tlogomas itu menolong rakyat banyak agar harga bbm bisa di turunkan pemerintah karena merasa terdesak oleh HMI ? punya data dan fakta apa bahwa pada akhirnya bbm turun karena demo ? lingkarannya jauh mas… diluar jangkau an kalian. kalau bikin rakyat susah iya, dampaknya terasa langsung, jalan macet, risiko kebakaran, polisi dikerahkan untuk hal kyk gini, masyarakat was2 rumahnya terbakar, keuntungannya belum tentu tampak tapi kerugiannya sudah jelas dirasakan. sehingga idealis temen2 HMI terbentur oleh realitas bahwa masyarakat merasa terganggu dan khawatir akan aksi bakar ban temen2 HMI sehingga membubarkannya. Kak Ira jangan marah ya. saya tidak sedang menjelek2 kan atau mengkritik HMI, saya hanya mengambil contoh nyata respon saya atas tindakan temen2 HMI. dan saya gk bilang dibelakang orang karena kemarin sudah saya sampaikan langsung pada orang yang mengaku sebagai pelaku seperti pada artikel sebelumnya.

atau… sedikit cerita fiksi. bagaimana orang yang tidak bisa berenang menolong orang yang sedang tenggelam sedangkan dia sendiri dalam posisi tenggelam ?

menolong orang baik, namu sebelum menolong orang kamu harus di posisi safe dan tidak terancam atau kamu akan jadi korban tambahan. atau contoh lain yang lebih ekstrim. misal ideologi yang digaungkan temen2 yang Islam fundamental, bahwa Indonesia itu harusnya khalifah, Burung Garuda itu berhala, uang kertas itu gk boleh harusnya pakai dinar dirham, dll. coba tanyakan,. mas uangnya yang ada gambar Burung Garudanya Boleh buat saya ? atau sini SNTK nya saya bakar karena ada gambar burung garuda, atau harunya pakai mata uang dinar dirham maka mas kalau beli 1 permen seharga 200 rupiah bisa pakai dinar dan dirham ? butuh berapa gram dinar untuk membeli sebungkus permen ? tentu akan sulit dengan realitas seperti ini ya. atau merasa pemerintah itu dholim, thogut tapi kerja jadi DOSEN PNS di UIN yang merupakan lembaga negara. gak kompatibel Pak. anda dapat gaji dari negara.

 

saya mau bikin contoh lain soal marxisme. soal yang pernah dibahas kak Ira. tapi saya tak benar2 paham dan mengalaminya. misal marxisme yang digembar gemborkan di rusia dengan slogan memperjuangkan buruh dan petani justus sebenarnya buruh dan petani lah yang ditindas habis2 an pada prakteknya. saya lupa referensi dari mana, mau nulis soal itu takut salah. karena tidak benar2 ada dilingkungan saya dan saya tidak mau sok tahu. Kak Ira nanti pada akhirnya akan tahu mengapa saya tulis ini.

Seiring berjalannya waktu semoga kakak2 tingkat saya ini benar2 memahami apa yang sebenarnya mereka perjuangkan. udah mau jam 5. saya mau pulang. mohon kritik dan sarannya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s