Diskusi malam

Posted: 17 September 2016 in Diskusi

Entah saya mau nulis apa. Saya diskusi sama temen2 HMI setelah dikasi info kak Ira ada acara ngopi. Ya… inilah tujuan saya…ingin diskusi. Sampai jam 2 malam banyangkan. Dan dalam hal ini status saya sebagai maba. Diskusinya tidak menemukan titik temu sama orang yg saya ajak diskusi. Tentang “Kebenaran Tuhan” yang gk nemu titik temu, sesuatu yg sebenarnya tidak perlu diperdebatkan tapi sedikit banyak saya mulai mengetahui konstruksi berfikir temen2 HMI. Atau mungkin dogma ini yang ditanamkan ke kaderisasi anggota baru. Ini yang ingin saya ketahui, karena saya kebiasaan berinteraksi dengan komputer yang hasilnya adalah sebuah kepastian.

Saya datang dluan di kopi kopros.milik mas fajar, ya tempat diskusinya disini. Dan saya pemiliki saham 5% disini ( dikasi mas fajar ) padahal saya gk merasa memilikinya. Ketemu sama istrinya juga yg ternyata juga kenal sama temen2 hmi. Istrinya anggota hmi juga ternyata. Saya bilang mas nama saya agung cahyo dan maba. Ini current state saya. Istrinya juga tahu. Tadi senyum2 semua pura2 gk kenal. Saya dibelikan ayam goreng yang pada akhirnya males makan dan tak kasikan kak eka.

Ada yg idealis banget sebut saja kakak F yang menurut hemat saya idealismenya hanya satu sisi perspektif. Tidak menggunakan perspektif orang lain yg mungkin berlawanan. Orangnya memang cerdas dari banyaknya informasi yg dia miliki dari membaca buku. Bukunya tebel bgt. Good luck🙂

Saya ingin memberi aplause Pada Kak Eka ( temen kak ira, female ) yang sedikit banyak pemikirannya arif. Tingkat yang lebih tinggi dari pengetahuan adalah kearifan. Tahu dan mengerti saya akan menjadikan kita kaku, kearfian menjadikannya cair. Kak eka merasa empati misal saya yg di posisi pemerintah. Kira2 saya bisa apa. Atau tambah kacau. Sepertinya kak eka lebih dewasa dan arif daripada kakak seniornya dalam hal perspektif. Saya belajar dari dia.

Dan yg terakhir debat gk jelas. “Kebenaran Tuhan”. Konstruksi berfikir kami berbeda. Yang pada akhirnya gk ada kesimpulannya. Karena memang “belive” itu gk bisa dipaksakan. Saya percaya saya ganteng tapi orang lain gak percaya, lalu saya setengah mati meyakinkan orang lain. Kira2 gitu analoginya. Dalam sudut pandang saya yang sempit dan otak saya yg terbatas ini , hemat saya dari diskusi org ini mengandalkan akal. Saya tidak menjustifikasi yak. Saya jadi mau belajar lagi hubungan wahyu dan akal. Disarankan baca2 buku lagi nanti dilanjut… ya saya senyum aja…
Kalau ada diskus mengenai ini lagi saya capek ah… krn pasti tahu
Juntrungannya kayak gini ha ha.
Paling tidak saya tahu konstruksi berfikirnya lah.

Dari pertemuan ini yg dapat saya pelajari adalah pengetahuan saja tidak cukup, kearifan dibutuhkan untuk memahami dan menyelesaikan suatu masalah. Karena masalah melibatkan manusia, bukan sekadar mana benar mana salah. Mana di hajar mana di elus.
Terima kasih kak eka…

Pembaca jangan mikir di luar konteks ya… saya jangan di bully🙂. Pastikan kalau baca artikel yg teater jeng menul baca juga yg ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s