Arsip untuk Mei, 2017


Mochamad Agung Tarecha

Mochamad Agung Tarecha

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Wah saya senang sekali membaca tulisan Dek Afi di link berikut http://m.liputan6.com/citizen6/read/2955876/akun-afi-nihaya-ditangguhkan-facebook-terlalu-kritis?utm_source=FB&utm_medium=Post&utm_campaign=FBcitizen6 dan Kak GIlang di link berikut http://www.gemarakyat.id/tulisan-gilang-kazuya-shimura-menanggapi-tulisan-afi-nihaya-faradisa-soal-agama-warisan/#

sebuah tradisi pemikiran yang sangat baik, saling berdialog melalui tulisan. data disandingkan data, argumen disandingkan argumen, referensi disandingkan referensi, pemikiran disandingkan pemikiran. semua tradisi yang akademis sekali. ya mungkin seperti itulah. sebuah dialog yang kalau dilanjutkan akan membentuk sebuah generasi pemikir yang hebat. Salut buat Dek Afi di usianya yang sedemikian muda sudah bisa menulis dan kritis dalam berfikir. kalau dibandingkan masa saya SMK dulu jauh lah, dulu saya masih berkutat sama dunia komputer ( karena di SMK Informatika ). Saya ingin menanggapi tulisan kalian berdua. Bukan bermaksud pro mana atau kontra mana. saya cman pengen menuliskan pemikiran saya :-). Malam minggu gak jelas gini saya nulis aja.

Menyoal Agama warisan. Memang benar kita gak bisa memilih orang tua siapa, lahir dimana, agama orang tua kita apa. Kita memang mempelajari agama dari orang tua. lalu kalimat “Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.” sebenarnya jika hemat saya pada saat beranjak dewasa kita lah yang memutuskan agama kita, apakah agama yang kita yakini benar atau agama sebelah yang benar. seseorang bisa saja pindah agama karena berfikir agama lain telah menunjukkan kebenaran yang tidak dia peroleh dalam agamanya misal sebagai salah satu contoh banyak kan peneliti ilmiah yang masuk islam gara2 penelitiannya ada di Al Qur’an – informasi ini yang saya tahu, ataupun memutuskan tidak beragama dan tidak berTuhan. Atau pun menuhankan uang, menuhankan kekuasaan, menuhankan partai, menuhankan organisasi, bahkan menuhankan perempuan yang bermakna memuja hedonisme seks.  Memilih beragama lalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama atau tidak melakukannya sama sekali ( asal agama ditulis di ktp ) itu adalah keputusan pribadi. Keputusan kita sendiri yang dimana kita tanggung sendiri akibat dari keputusan itu. Menurut Mas Gilang yang mengutip bahwa setiap orang dilahirkan lahir dalam keadaan fitrah, saat masih dalam alam ruh kita sudah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita, dan ini adalah doktrin dalam Al-Qur’an. Kenapa saya katakan doktrin ? karena kita gak bisa membuktikan hal tersebut menggunakan akal, ingat akal kita terbatas. Saya kutip ayat Al Qur’an sedikit ya, tapi bukan berarti saya sok bawa ayat-ayat, namun sebagai referensi / data agar saya berpegang pada dasar yang saya pegang sebagai umat Islam.

Mengenai soal kafir masuk neraka , Islam masuk surga. Memang secara tekstual memang seperti itu. Kisah Paman Nabi Abu Thalib yang tidak mau mengucapkan syahadat memang beberapa literatur berada di neraka. Silahkan cari beberapa referensi mengenai itu. Itu semua domain Allah. Buat Kak GIlang, sekalipun doktrinnya seperti itu tapi bukan berarti kita seenaknya ngata2in kepada muka orang kafir kamu masuk neraka. kutipan berikut “Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.” yang saya tangkap sih dari kata2 dek Afi itu kita gk perlu mengatakan orang lain pasti masuk neraka sedang kita gk bisa menjamin diri sendiri masuk surga. Yang bisa kita lakukan adalah mengharap Syafaat Rasulullah SAW sebagai Nabi yang kita cintai. Sederhananya kalau ada orang pincang, cacat… jangan ngata2in ke mukannya he kamu si buta, he kamu si pincang, he kamu si kurap. Sekadar menjaga perasaan orang lain sih. Biar urusan soal siapa masuk surga siapa masuk neraka itu jadi domain Tuhan. kita gak perlu ngata2in di depan mukanya. Dan umat beragama lain juga sebaiknya begitu sehingga kita damai. Memang benar pasti masing2 pemeluk agama pasti mengklaim kebenaran agamanya. Kalau sebagai analogi agama sebagai Istri (mengutip pemikirannya Cak Nun). kita gak perlu berdebat di pos satpam sama tetangga he istriku ini lebih cantik dari istrimu, satu menimpali oh gak bisa istriku jauh lebih cantik dan montok. lalu kita berantem di pos satpam gara2 berdebat istri siapa yang lebih cantik. wong gak mungkin kita bersepakat liberal untuk saling tukar istri buat semalam saja agar tahu sendiri kan (ini bercanda ya) ? jadi yang kepercayaan itu buat diri kita sendiri saja gak perlu menjelaskan panjang lebar soal kecantikan istri kita pada tetangga… #ehh saya masih jomblo.

Menyoal Tuhan bisa saja membuat kita sama tapi tidak memang benar. Kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya bisa saling mengenal. saya setuju soal ini “Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.” kita lihat timur tengah masih memanas hari ini. atau perang saudara di amerika dulu. namun hemat saya yang menyebabkan perang bukan karena persamaan agamanya, namun karena tidak mampu memanagement perbedaan. [update tgl 22 mei 2017] maksudnya faktor perbedaan atau persamaan agama sebenarnya bukan menjadi root cause penyebab perang / kerusuhan bila menggunakan contoh timur tengah saat ini atau perang saudara di amerika dulu [end of update ] ini masalah utamanya, sentimen mayoritas dan minoritas hanyalah efek yang timbul dari ketidakmampuan tersebut. Alangkah indahnya ketika kita sholat Idul Fitri umat beragama lain yang membantu mengatur lalulintas, ketika umat lain merayakan Nyepi kita juga bertoleransi untuk gak bikin konser musik yang kira2 menganggu ibadah. Sebagai warga negara dan umat beragama, kita wajib menjaga keharmonisan yang selama ini sudah terbagun. Jadi bersyukurlah tinggal di Indonesia, setidaknya kita masih hidup tenang sekarang.

Menyoal penggunaan agama sebagai dasar negara. hmm… gimana ya… gak bisa dipukul rata… karena keadaan tiap negara berbeda. Kalau di Arab Saudi okelah. Saudi menggunakan dasar agama Islam karena Islam mucul pertama kali disana. Vatikan sebagai negara agama Katolik ( mohon referensinya bila ada kesalahan). Korea Utara menjadikan Komunisme sebagai dasar negara. Di Indonesia kita menggunakan Pancasila. Buat Kak GIlang. Dari yang saya tangkap dari Dek Afi ini “Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.”  konteks yang diungkapkan dek afi ini soal Indonesia, jika Indonesia diganti menggunakan dasar Negara Islam seperti yang dikampanyekan teman2 HTE (Hizbut Tahrir Endonesia) tentu umat beragama lain gk setuju karena kita sudah punya dasar negara Pancasila. Lalu ketika itu terjadi masing2 umat menuntut perubahan dasar negara sesuai agama maka akan hancur Indonesia. Karena masing2 mau agamanya dijadikan dasar negara. Memang benar bila ditinjau secara mendalam bahwa gak ada sila dalam Pancasila yang bertentangan dengan Islam, bahkan sesuai. mungkin ini yang Kak Gilang Maksud ya gambar dibawah. Tapi hemat saya gk perlu menggembar – gemborkan hal tersebut. TUh Pancasila dari Islam, nanti umat bergama lain gak mau pakai Pancasila gara2 di klaim dari Islam. Mengutip Ustadz saya Achmad DIny Hidayatullah, beliau ingin menjadi garam dalam air, memberi rasa tapi tak ingin terlihat. dan tak ingin menjadi gincu, membuat merah bibir tapi tak memberi manfaat. Mengklaimnya bukan soal benar salah, namun lebih untuk kebijaksanaan.

soal invervensi kebijakan berdasarkan agama “Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.” ya memang baiknya begitu, bahkan sebaiknya intervensi kebijakan itu bukan karena faktor umat, kepentingan golongan, organisasi, partai, kelompok masyarakat, kelompok mahasiswa, ideologi2 masing2 organisasi baiknya tidak mengintervensi ( mendominasi ) karena kebijakan yang baik itu baik untu semuanya, bukan baik untuk golongan A dan buruk untuk golongan B. Kebaikan untuk bersama.

 

Buat dek afi dan kak gilang… salam kenal… saya suka tulisan kalian berdua. teruslah menulis. dan saya tunggu tulisan2 selanjutnya 🙂

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

 

 

Wannacry

Posted: 15 Mei 2017 in Pengalaman

Sumber foto : group wa TI UIN 
Eah gara2 virus nie kita kalang kabut. Saya sedang perjalanan di bis waktu menulis ini. Padahal pas banyak project nih cctv dan pas agar issue wifi. Lembur sampai jam 8. Soalnya klo lebih sulit dapat bis waktu pulang.

Ya tindakan nya udah seperti yg disarankan kominfo cman gk perlu cabut kabel, tinggal blok aja port 80 dan 443 di firewall biar user gk bisa browsing. Email dll masih jalan. Serem2 sedap , tapi kita udah melakukan tindakan preventif kok :-). Besok dilanjut. 

Sumber masalahnya adalah di bit coin, mata uang ini gk bisa dilacak dan dipertanggungjawabkan. Karena itulah si pembuat virus minta tebusan bit coin. Nit coin itu banyak mudhorotnya daripada manfaatnya. Salah satunya ya ini. Klo di luar negeri beli narkoba pakai bit coin jadi gk terlacak. Saya yakin eksistensi rasomeware akan berbanding lurus dengan bit coin. Klo bit coin hilang, paling tidak rasomeware akan menurun. Karena gk mungkin minta tebusan dalam uang fisik atau transfer bank kan ? 

Dulu waktu smk presentasi saya adalah anatomi virus. Pas kelas 1. Saya praktekin tuh bikin virus sederhana. Nanti deh klo pptnya masih ada saya share. Tentu sudah beda sekali dari 2006 lalu.

Sekian dulu. 🙂

Salah satu sekolah di tulungagung kens

Kode diatas dari group. Saya belum bisa konfirmasi kebenarannya krn belum kena. Tp harusnya sih 1 code 1 infeksi dan pasti beda. Yang bikin virus rugi kalau kodenya sama

Klo meme diatas jail banget… Pasti klo file skripsi si cewek pasti langsung mau atau ngegampar si cowok.

AIO Kartinian

Posted: 10 Mei 2017 in kenangan

Oh ya kemarin saya dapat reward pas acara kartinian. Cman upload foto saja sih. Eh dapat hadiah . Best fotogenic meski sebenarnya parameternya adalah yang beda, dan saya cman pakai blangkon malang yang antenna. Ya klo blangkon jogja ada mbendol atau benjolan dibelakang, blangkon solo lurus di belakang, yg malangan ada antennanya 🙂

Apa yang membuatmu resah ?

Posted: 3 Mei 2017 in Diskusi

Renungan sebelum tidur.

Apa yang membuatmu resah ?

Kalau saya sih resah karenaa generasi tua yang mengacau tapi nantinya kita yang harus membereskannya. Sebut saja oknum DPR, oknun pemerintah, dll. Sebut saja hak angket karena dpr gk dikasi lihat rekaman yg menekan miriyam di kasus e ktp. Ya emang sih mikirnya ketinggian, tapi menjadi sebuah tanggugjawab moral. Atau saya resah karena gk punya hal yg penting untuk dipikirkan atau apa entah lah. Yang pasti saya sebel banget, harus ada generasi yang sadar dan bersama2 membereskan bangsa yang sedang morat marit ini. Dan semoga itu jadi generasi saya. 

Lalu untuk saat ini apa yang bisa kita lakukan ? Paling tidak jangan ikut2 sakit jiwa gendeng untuk ikut dalam kekacauan. Kalau memang benar katakan benar , kalau salah katakan salah. Gk peduli partai politik mana, berafiliasi atau tidak. Klo saya sih bukan partisan partai manapun jadi fine2 aja kritis dan vokal, kalo kamu gimana uchi ha sasuke ? Apa yang kamu resahkan ?