Menanam benih kebencian

Posted: 31 Mei 2017 in Diskusi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sebelumnya yuk nyanyi dulu. Favorit saya.

lagu Sheila on 7 – Khaylila’s Song sumber link youtube

terima kasih buat Bapak yang udah upload video ini dengan foto2 yang lucu.

Khaylila yang cantik
Cepatlah kau besar
Ajarkan dunia berbagi seperti yang
Ku ajarkan kepadamu..
Khaylila yang mungil
Bila kau jadi pemimpin
Berikan hak mereka..
Bebas dari rasa takut
Juga rasa tertindas

Reff:
Dengan senyummu senjata membeku
Tantara bernyanyi ikuti tingkahmu
Tak ada lagi naluri menguasai
Perlahan berganti naluri berbagi

Satu hal yang pasti..
Ajarkan anak kita..Berbagi.. Memberi..
Lebih dari yang kita
Lakukan untuk saat ini..

Back to reff
Dengan senyummu langit terpeluk
Bintang bertakuk
Ku butuh kau sentuh
Tak ada lagi
Yang ku takuti
Ku terlindungi
Dengan sentuhanmu…
Back to reff

lalu sama video ini, abaikan captionnya yang menyebut nama organisasi. saya dapat dari youtube. bukan saya yang menulis itu ya.

 

dengan prolog dari kedua sumber diatas sepertinya sudah menjadi garis besar artikel ini. video yang ke 2. realita.

oh ya mari kita lihat tulisan teman saya mengenai ini juga. Ragwan Alaydrus.  saya sudah minta izin untuk menjadikan tulisannya salah satu referensi di artikel ini. Ragwan ini dlu anak KAMMI, kalau saya LDK. meski begitu sikap saya kira2 agak sedikit “beda” dengan anak2 LDK kebanyakan. . soal Roti yang diboikot sama soal2 ini (benih kebencian) kira2 saya dan ragwan punya “ide yang sama” tapi sedikit beda sama temen2 LDK KAMMI. mungkin bisa dilihat dari banyaknya yang mengcounter ide yang disampaikan.You know what I mean. statemen yang mengcounter tidak saya tampilkan ya dari kami berdua, bukan berarti bermaksud tidak adil namun agar lebih fokus pada pokok bahasan saja.

 

Menanam benih kebencian, ya ini pokok bahasan utamanya. Saya kira setelah kontestasi politik pilkada jakarta dan keputusan sidang Ahok yang dinyatakan bersalah kemudian tidak jadi banding masalah perseteruan antar anak bangsa sudah selesai. Final. ternyata masih belum selesai. masih ada sentimen-sentimen permusuhan. salahsatunya video diatas, ada banyak berita yang membahasnya silahkan dicari. entah mengapa kita sebagai generasi tua yang “lebih mampu berfikir dengan akal sehat” dibanding anak-anak menanamkan benih-benih kebencian kepada sesama anak bangsa. Teriakan “Bunuh… bunuh.. bunuh si Ahok… Bunuh si Ahok sekarang juga” menandakan sebuah kondisi kritis. Bagaimana anak-anak kita atau lebih tepatnya adek-adek kita (kalau di refer to nya ke saya) melakukan tindakan tersebut. Apakah mereka sadar ?

Orang2 “Dewasa” yang sedikit pro terhadap tindakan tersebut berargumen memang karena kesalahannya Pak Ahok yang berkata2 “tidak pantas” sehingga wajar bila anak2 membalas seperti itu, ada lagi yang beranggapan bahwa anak2 itu memang mudah percaya karena memang media-media banyak yang framming. okelah faktor eksternal tersebut diakui memang begitu adanya. Namun kita gak perlu mengutuk2 Pak Ahok karena dianggap mempengaruhi perilaku anak-anak kita, yang perlu di pertanyakan adalah bagaimana tanggung jawab orang tua. Tidak akan habisnya menyalahkan orang lain, bukankah lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.  Kalau itu masih belum memuaskan bagi “orang dewasa” yang suka mengutuk, mengapa tidak sekalian saja mengutuk Iblis ? namun tindakan tersebut tidak akan membawa “PERUBAHAN” ke keadaan yang lebih baik.   bagaimana pola pendidikannya ( meski saya tahu ini sangat sulit dan saya belum mengalaminya sendiri ), apakah para orang yang lebih dewasa telah “menanamkan benih kebencian” pada anak2 mereka, orang yang lebih dewasa ini bisa jadi “orang tua” nya sendiri atau orang lain. teriakan2 “Bunuh… bunuh.. bunuh si Ahok… Bunuh si Ahok sekarang juga”  yang diucapkan anak2 mau tidak mau, suka tidak suka adalah tanggungjawab kita sebagai orang tua atau orang yang lebih dewasa ( maksudnya bukan orang tua namun mempengaruhi anak2 tersebut sehingga berperilaku seperti itu).  Harus disadari ini adalah kondisi kritis, jika terus dibiarkan akan menjadi penyesalan kita dimasa mendatang.

Islam itu Agama damai, gak kompatible dengan kebencian. Kita tidak memerlukan undang2 anti hate speech karena secara nilai moral yang kita pegang ujaran kebencian tidak kompatibel dengan Agama Islam. artinya seharusnya tanpa undang-undang pun kita gak boleh hate speech. Contohlah Akhlak Rasulullah SAW terhadap orang yang tidak mau beriman, apakah Rasulullah bersikap kasar ?

Lalu… Apakah tindakan anak-anak yang dipengaruhi faktor eksternal tersebut bisa “dibernarkan” dan “dimaklumi” ? Kita harus punya standart yang sama soal akhlak baik atau tidak baik, lalu akhlak siapakah yang dimana tidak ada perdebatan diantara kita umat Islam yang dapat dijadikan patokan ? Tentu saja Aklak Rasulullah SAW. Bukankah Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan Akhlak. artinya sebagai umat Islam kita gak mungkin memperdebatkan akhlak Rasulullah SAW. jadi deal ya patokannya Aklak Rasulullah SAW ? memang benar kalau kita ini umatnya Rasulullah SAW dan karena kita bukan Rasulullah SAW gak mungkin persis mesti sama, sebisa mungkin kita mencontoh akhlak beliau semampu kita. Kita bisa bersepakat tanpa perdebatan bahwa ukuran standarnya adalah akhlak beliau. setelah kita sepakat lalu kita bisa melihat perilaku anak-anak tersebut maka kita akan tahu bahwa tindakan tersebut salah karena Rasulullah SAW itu tidak pernah mencontohkan seperti itu.  sampai disini ada yang mau menyanggah ? silahkan tulis argumen Anda 🙂

 

Bagi para orang “DEWASA” mohon jangan tanamkan benih-benih kebencian pada Anak-anak atau nanti kalian akan melihat beratapa merusaknya kebencian bila ia telah tumbuh dewasa, tolong jangan kotori mereka dengan egomu. Ego ingin menang mu. Kontestasi pilkada jakarta sudah selesai dan sidang kasus Pak Ahok juga selesai. sekarang saatnya menghentikan semua permusuhan ini, mau diakui atau tidak diakui.  Kita adalah saudara sebangsa setanah air. Mari kita tanamkan benih-benih cinta dan berbagi kepada anak-anak kita. Saya suka sekali lagu Sheila on 7 “Tak ada lagi naluri menguasai, Perlahan berganti naluri berbagi”. Mari kita didik mereka yang sudah melakukan tindakan tersebut sesungguhnya mereka tidak tahu dan kita yang bertanggungjawab atas itu. mengutip kata2 Imam Ali ra.

DIA YANG BUKAN SAUDARAMU DALAM IMAN, ADALAH SAUDARA DALAM KEMANUSIAAN

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s