Menghakimi orang lain

Posted: 9 November 2018 in renungan

assalamu’alaikum Wr. Wb.

tiba2 inget ini, meski sebenarnya cari quote2 gk jelas lewat google

hmmm… tulisan ini didasari oleh hmm… apa ya ? pengalaman pribadi. saya tiba2 terbagung jam 1.30 dini hari. mimpi dimarah2 in. dan ternyata saya di marah2 in beneran :-). saya yakin ini bukan mimpi biasa, bisa jadi semacam petunjuk. tapi kan saya orang biasa yang banyak salahnya, aliran ruwet, gk mungkin gitu yang ngasi mimpi dan jadi kenyataan dalam sekejap itu malaikat. btw nanti saya cari jawabannya…

hmmm… saya hampir tidak pernah menghakimi orang lain, kadang yang saya hakimi ya adek saya… 🙂 tapi itu karena aku sayang dia, Imam Tarecha. Walaupun toh tidak mengambil peran ortu untuk memberi tahu adeknya. tapi seperti biasanya adek saya juga konfrontatif, sama seperti saya… katakan “Lawan !” , walau maksudnya baik… dulu kita berdebat soal filsafat… ya waktu belajar memang filsafat harus ada lawannya. waktu itu saya minta dia untuk mendaftar jadi HMJ karena untuk memperjuangkan nilai. karena salah satu syarat daftar HMJ adalah ikut ukm. untuk mengalahkan dominasi PMII saat itu, walaupun toh akan kalah setidaknya calonnya ada 2 bukan cman 1. saya menghakimi bahwa adek punya tanggung jawab moral disana. masa lalu

saya dikatain freak atau sakit jiwa, hmm… saya jadi mikir freak yang gimana ? padahal saya merasa “normal”, ataukah sebenarnya saya ini sedang sakit jiwa yang pura2 normal ?. ok saya tanyakan ke teman saya Rista, beberapa artikel yang ada ristanya ada di blog ini. Ris kamu kenal aku selama 12 tahun, kira2 aku freak gk ? apa aku pernah godain kamu di level dimana tidak patut jika dipandang dalam sudut Agama yang kita anut atau budaya ketimuran ? atau kamu merasa gk aman dan insecure kalau ada aku ? kenapa aku tanya dia, agar sama respondennya prempuan. dia bilang enggak, selama 12 tahun ini masih normal, gk tahu besok, mungkin kamu kelamaan jomblo. gitu katanya . makanya ndang nikah, dia bilang gitu karena baru aja dapet pacar. sungguh terlalu. selama ini aman2 saja gk merasa insecure atau gk aman, kecuali saat kamu minta buat urunan peralatan pendakian tenda, kompor. dll, merasa di palak gue..mungkin cman belum kenal kamu lama aja… atau mungkin culturenya beda dengan generasi kita.mungkin sebenarnya psikopat yang cerdas yang bisa ngakalin psikotes yang pas rekrutmen aio. freak yang gimana ? gtw juga. saya jauh lebih bisa ngata2in diri saya sendiri dibanding orang lain, tenang saja. oh ya saya juga tidak marah. karena mungkin saja persepsi tersebut mengandung kebenaran, entah benarnya berapa persen, tapi saya mengapresiasi ucapan jujur tersebut. saya pun tidak menghakimi seperti itu. karena saya rasa masih bisa bersholawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, pribadi yang sangat saya cintai dan masih suka sembahyang dan mengaji kayak si doel. saya rasa saya gk sakit jiwa. karena jika hilang akal / sakit jiwa saya gk punya kewajiban menjalankan ibadah. done untuk sementara hipotesa ini bisa dipegang. saya tidak melakukan pembelaan atas persepsi teman saya ini, toh juga saya gk marah :-). hanya saja ini jadi pengalaman yang bagus di tulis di blog.

oh ya jadi cerita buku yang dulu saya beli meski belum khatam.

2018-11-09 14_12_50-Agung Tarecha _ Cemara Angin (@agungtarecha) • Instagram photos and videos

buku ini bercerita soal orang2 yang dianggap sakit jiwa , freak, gendeng, gk waras tapi sebenarnya sangat berilmu, hanya saja pemahaman orang2 saat itu belum sampai kepada pemikiran mereka. contoh saja orang yang benar2 hidup pada masa Rasulullah SAW namun bukan sahabat beliau tapi tabi’in ( orang yang bertemu dengan orang yang bertatap muka langsung dengan Rasullullah SAW ). Kanjeng Nabi nitip salam ke beliau dan disampaikan oleh Umar ra. Umar mencari orang tersebut untuk menyampaikan salam dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW. namun tak ada yang mengenalnya kecuali Uais Al Qar’ni yang gila. ini kisah nyata. lengkapnya baca buku itu saja deh… orang2 yang dianggap sakit jiwa, freak — padahal muslim genius yang benar2 hidup.

baik itulah prolognya…

sekarang kembali ke topik utama “menghakimi orang lain” menjudge orang lain a , b , c , salah dan lain sebagainya, menghakimi sakit jiwa atau freak. yang biasa menghakimi sesat, bi’dah, syirik… hayo merasa gk klo ada orang ziarah ke makam wali langsung di cap syirik

saya hanya bisa berdo’a semoga Allah melembutkan hatinya dan tutur katanya, dan memaafkan kesalahan saya. saya dianggap sok tahu dan sok ngatur2, padahal siapa saya ? pengetahuan yang saya dapatkan sebenarnya dalam rangka tabayun, konfirmasi apakah informasi yang saya terima benar. mungkin dianggap kepo dan tidak tahu karakter yang seperti itu. tapi ah saya juga turut andil salah. dan ngatur2 mungkin karena saya kakak, jadi biasanya bertanggungjawab lebih…. hanya saja salah diterapkan pada orang lain.

Mau tahu sifat asli seseorang ? Lihatlah saat dia marah, apa yang dia katakan. apakah dapat menahan emosinya. akan setara dengan level kedewasaannya, dan itu juga berlaku untuk saya,…. 🙂

dan jangan lupa untuk memahami keadaan psikologis orang lain, yang mungkin masih rentan dengan perasaan insecure terhadap kehadiran dirimu yang freak itu :-)…

apalagi yang kamu hadapi memiliki kondisi psikologis yang berbeda, yang memiliki tujuan pada saat ini yang jelas berbeda pula… kamu harus bijak untuk mengetahui itu… dan juga memahami…

apalagi jika emosinya belum stabil dan punya karakter keras…. maka bersabarlah… meski saya kadang status galau gara2 merasa bersalah sama anak biak, tapi begitu diskusi saya langsung on kok….. apalagi masalah sosial… gk galau sih sebenarnya, cuman merasa punya tanggungjawab moral…. kadang masih tanya kabarnya dari teman2 nya, tapi bukan berarti PHP ya…

semacam masih ada yang mengganjal karena belum minta maaf secara langsung, hornor as a man.

satu lagi bagi para laki2, perempuan itu fitrahnya seperti tulang rusuk… karena itu diambil dari tulang rusuk mu yang bengkok… jika kamu keras maka ia akan patah, tapi jika kamu biarkan ia akan tetap bengkok. maka bimbinglah dengan lemah lembut.

dan buat perempuan. ketahuilah bahwa laki2 itu tulang punggung, dia menahan beban dan tanggung jawab yang sangat berat. mungkin banyak kekurangannya yang tidak mengetahui keinginan dan pikiranmu… maka lemah lembut lah padanya, dia akan juga melunak.

wah kayak nya saya sok bijak sekali, sok tahu sekali nulis ginian padahal kenyataannya tidak pernah diterapkan. sebuah “self criticism”, mungkin benar yang dikatakan mugunghwa…. saya sok tahu, sok ngatur2, freak karena terlalu baper.. ya mungkin suka sepenuh hati karena Allah, bukan karena hasrat saja….. terima kasih atas sarannya 🙂 saya rasa kita akan jadi teman baik suatu saat.

7 tahun dan terus berdetak….. 3 tahun lagi kita bisa aniversary pertikaian yang ke 10 tahun 🙂

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s