Archive for the ‘renungan’ Category

Menahan Amarah

Posted: 21 November 2018 in renungan

Malang, 21 November 2018

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

amarah

hadist diatas copy paste dari google ya,

 

well karena ini adalah blog pribadi, semacam catatan buat nanti saya baca atau anak cucu saya baca nanti maka yang ditulis bukan yang “baik” saja, namun mungkin yang salah atau gimana buat pelajaran. ini bukan blog pencitraan untuk menampilkan yang baik-baik saja, kalau ingin lihat yang baik-baik saja dan full pencitraan bisa kunjungi laman linkedin saya https://www.linkedin.com/in/mochamad-agung-tarecha-62186b71 ๐Ÿ™‚

kalau linkedin laman khusus misal mau hire saja yah, kalau ini adalah blog pribadi, khusus untuk menyimpan kenangan, ide, dan pemikiran saya. eh dimulai dari mana ini ya ? ih ya tulisan ini bukan ajang memuji diri sendiri dan menghakimi orang lain, karena yang namanya saya tulis jelas adalah saya, sedang yang lain tidak saya sebut namanya.

oke pagi saya terganggu oleh rekan kerja yang ngomong yang bikin saya gk enak hati, sebal, tapi saya senyum saja. dalem hati pengen cubit tuh orang. selang beberapa lama, saya WA bahwa pakai bahasa jawa halus kromo inggil, minta maaf duluan dan bilang jangan gitu, meski saya marah saya punya adab sebagai seorang santri. wih guaya banget ya, padahal toh dlu kalau marah kayak orang kalap. wait… kenapa saya bisa jadi berlaku “sesopan” itu ? saya sendiri kaget, biasanya menggunakan metodelogi hajar bleh, namun sepertinya ada yang berubah dari dalam diri saya. atau kalau marah pakai bahasa jawa kromo inggil saja, marah tapi minta maaf kalau sedang marah bukanlah kombinasi yang pas. inget ini bukan ajang memuji diri sendiri, ini tulisan apa adanya. karena yang sederhana dekat dengan ketulusan. kok bisa ya saya seperti ini , atau mungkin harusnya ini titik yang harusnya sudah saya capai ketika berumur 24-25 ?

saya jadi inget seorang teman yang marah ke temannya karena gangguin dia terus. “selamat, dari sedikit orang yang saya benci, saya berhasil membencimu”. well ini kedewasaan yang hakiki ini, masak orang benci ngucapin selamat. kurang lebih kata2 nya gitu. berarti dia lebih dewasa dari saya ketika berumur 23 tahun ya..karakter yang kuat… sedang saya bisa menahan marah ketika berumur 27. berarti saya terlambat nih, kenapa baru sekarang ? ya setiap orang punya tahap yang berbeda2 kan, ada yang sudah tua gk terbiasa dengan perbedaan, misal dalam ritual agama, itu syirik, bi’ah dll… mau benarnya sendiri. dan itu terlihat waktu ada acara, misal musik haram. gk boleh ada sholawatan dll.

memang sih sekarang tidak se konfrontatif dulu, waktu mahasiswa saya aktivis, menyuarakan dengan vokal, mengenai sistem kuliah di TI uin, tentang praktikum, tenang apa gitu. sekarang sudah tidak lagi, saya tidak suka konfrontasi. lebih baik menjaga keseimbangan, ada yang marah2 biarin, memangnya saya perlu marah juga ?

jadi ada rekan di jkt yang marah2 lewat email, lah saya bingung, kita di kejayan itu membantu, yang punya ide bukan kita, tapi kita membantu, ketika ide itu tidak berjalan dengan sempurna, namun kita sudah berusaha membantu agar sesuai rencana kenapa kita dimarahin dan dimintain pertanggungjawaban ? yang punya ide siapa, yang dibikin repot siapa ? padahal lo rencana B nya sudah lumayan lancar dan bagus. katanya sih culture orang jakarta seperti itu, rata2 seperti itu. la mas kita itu bantuin idenya sampean, kok kita yang dimarahin dan disuruh2 ? :-). saya pun istighfar… untung saya gk gitu ya, dan mas mario cuman senyam senyum aja. easy going. baik lah saya tiru. karakter ini emang sulit. marah itu mudah, yang sulit adalah menahan amarah. apalagi saya orang jawa, seyogyanya kalau marah pakai bahasa jawa kromo inggil gitu :-).

well saya belajar banyak darimu…. good luck disana nggeh… semoga ilmunya bermanfaat, btw sekarang jadi aktivis guru ya… selamat… saya pun pengen jadi relawan… ikut berkontribusi kepada bangsa….., ah apa lagi ini… ๐Ÿ™‚

dibutuhkan karakter yang kuat untuk menahan amarah, sepertinya tulisan ini kurang lebih pengamalan dari kutipan hadits diatas.

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Menghakimi orang lain

Posted: 9 November 2018 in renungan

assalamu’alaikum Wr. Wb.

tiba2 inget ini, meski sebenarnya cari quote2 gk jelas lewat google

hmmm… tulisan ini didasari oleh hmm… apa ya ? pengalaman pribadi. saya tiba2 terbagung jam 1.30 dini hari. mimpi dimarah2 in. dan ternyata saya di marah2 in beneran :-). saya yakin ini bukan mimpi biasa, bisa jadi semacam petunjuk. tapi kan saya orang biasa yang banyak salahnya, aliran ruwet, gk mungkin gitu yang ngasi mimpi dan jadi kenyataan dalam sekejap itu malaikat. btw nanti saya cari jawabannya…

hmmm… saya hampir tidak pernah menghakimi orang lain, kadang yang saya hakimi ya adek saya… ๐Ÿ™‚ tapi itu karena aku sayang dia, Imam Tarecha. Walaupun toh tidak mengambil peran ortu untuk memberi tahu adeknya. tapi seperti biasanya adek saya juga konfrontatif, sama seperti saya… katakan “Lawan !” , walau maksudnya baik… dulu kita berdebat soal filsafat… ya waktu belajar memang filsafat harus ada lawannya. waktu itu saya minta dia untuk mendaftar jadi HMJ karena untuk memperjuangkan nilai. karena salah satu syarat daftar HMJ adalah ikut ukm. untuk mengalahkan dominasi PMII saat itu, walaupun toh akan kalah setidaknya calonnya ada 2 bukan cman 1. saya menghakimi bahwa adek punya tanggung jawab moral disana. masa lalu

saya dikatain freak atau sakit jiwa, hmm… saya jadi mikir freak yang gimana ? padahal saya merasa “normal”, ataukah sebenarnya saya ini sedang sakit jiwa yang pura2 normal ?. ok saya tanyakan ke teman saya Rista, beberapa artikel yang ada ristanya ada di blog ini. Ris kamu kenal aku selama 12 tahun, kira2 aku freak gk ? apa aku pernah godain kamu di level dimana tidak patut jika dipandang dalam sudut Agama yang kita anut atau budaya ketimuran ? atau kamu merasa gk aman dan insecure kalau ada aku ? kenapa aku tanya dia, agar sama respondennya prempuan. dia bilang enggak, selama 12 tahun ini masih normal, gk tahu besok, mungkin kamu kelamaan jomblo. gitu katanya . makanya ndang nikah, dia bilang gitu karena baru aja dapet pacar. sungguh terlalu. selama ini aman2 saja gk merasa insecure atau gk aman, kecuali saat kamu minta buat urunan peralatan pendakian tenda, kompor. dll, merasa di palak gue..mungkin cman belum kenal kamu lama aja… atau mungkin culturenya beda dengan generasi kita.mungkin sebenarnya psikopat yang cerdas yang bisa ngakalin psikotes yang pas rekrutmen aio. freak yang gimana ? gtw juga. saya jauh lebih bisa ngata2in diri saya sendiri dibanding orang lain, tenang saja. oh ya saya juga tidak marah. karena mungkin saja persepsi tersebut mengandung kebenaran, entah benarnya berapa persen, tapi saya mengapresiasi ucapan jujur tersebut. saya pun tidak menghakimi seperti itu. karena saya rasa masih bisa bersholawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, pribadi yang sangat saya cintai dan masih suka sembahyang dan mengaji kayak si doel. saya rasa saya gk sakit jiwa. karena jika hilang akal / sakit jiwa saya gk punya kewajiban menjalankan ibadah. done untuk sementara hipotesa ini bisa dipegang. saya tidak melakukan pembelaan atas persepsi teman saya ini, toh juga saya gk marah :-). hanya saja ini jadi pengalaman yang bagus di tulis di blog.

oh ya jadi cerita buku yang dulu saya beli meski belum khatam.

2018-11-09 14_12_50-Agung Tarecha _ Cemara Angin (@agungtarecha) โ€ข Instagram photos and videos

buku ini bercerita soal orang2 yang dianggap sakit jiwa , freak, gendeng, gk waras tapi sebenarnya sangat berilmu, hanya saja pemahaman orang2 saat itu belum sampai kepada pemikiran mereka. contoh saja orang yang benar2 hidup pada masa Rasulullah SAW namun bukan sahabat beliau tapi tabi’in ( orang yang bertemu dengan orang yang bertatap muka langsung dengan Rasullullah SAW ). Kanjeng Nabi nitip salam ke beliau dan disampaikan oleh Umar ra. Umar mencari orang tersebut untuk menyampaikan salam dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW. namun tak ada yang mengenalnya kecuali Uais Al Qar’ni yang gila. ini kisah nyata. lengkapnya baca buku itu saja deh… orang2 yang dianggap sakit jiwa, freak — padahal muslim genius yang benar2 hidup.

baik itulah prolognya…

sekarang kembali ke topik utama “menghakimi orang lain” menjudge orang lain a , b , c , salah dan lain sebagainya, menghakimi sakit jiwa atau freak. yang biasa menghakimi sesat, bi’dah, syirik… hayo merasa gk klo ada orang ziarah ke makam wali langsung di cap syirik

saya hanya bisa berdo’a semoga Allah melembutkan hatinya dan tutur katanya, dan memaafkan kesalahan saya. saya dianggap sok tahu dan sok ngatur2, padahal siapa saya ? pengetahuan yang saya dapatkan sebenarnya dalam rangka tabayun, konfirmasi apakah informasi yang saya terima benar. mungkin dianggap kepo dan tidak tahu karakter yang seperti itu. tapi ah saya juga turut andil salah. dan ngatur2 mungkin karena saya kakak, jadi biasanya bertanggungjawab lebih…. hanya saja salah diterapkan pada orang lain.

Mau tahu sifat asli seseorang ? Lihatlah saat dia marah, apa yang dia katakan. apakah dapat menahan emosinya. akan setara dengan level kedewasaannya, dan itu juga berlaku untuk saya,…. ๐Ÿ™‚

dan jangan lupa untuk memahami keadaan psikologis orang lain, yang mungkin masih rentan dengan perasaan insecure terhadap kehadiran dirimu yang freak itu :-)…

apalagi yang kamu hadapi memiliki kondisi psikologis yang berbeda, yang memiliki tujuan pada saat ini yang jelas berbeda pula… kamu harus bijak untuk mengetahui itu… dan juga memahami…

apalagi jika emosinya belum stabil dan punya karakter keras…. maka bersabarlah… meski saya kadang status galau gara2 merasa bersalah sama anak biak, tapi begitu diskusi saya langsung on kok….. apalagi masalah sosial… gk galau sih sebenarnya, cuman merasa punya tanggungjawab moral…. kadang masih tanya kabarnya dari teman2 nya, tapi bukan berarti PHP ya…

semacam masih ada yang mengganjal karena belum minta maaf secara langsung, hornor as a man.

satu lagi bagi para laki2, perempuan itu fitrahnya seperti tulang rusuk… karena itu diambil dari tulang rusuk mu yang bengkok… jika kamu keras maka ia akan patah, tapi jika kamu biarkan ia akan tetap bengkok. maka bimbinglah dengan lemah lembut.

dan buat perempuan. ketahuilah bahwa laki2 itu tulang punggung, dia menahan beban dan tanggung jawab yang sangat berat. mungkin banyak kekurangannya yang tidak mengetahui keinginan dan pikiranmu… maka lemah lembut lah padanya, dia akan juga melunak.

wah kayak nya saya sok bijak sekali, sok tahu sekali nulis ginian padahal kenyataannya tidak pernah diterapkan. sebuah “self criticism”, mungkin benar yang dikatakan mugunghwa…. saya sok tahu, sok ngatur2, freak karena terlalu baper.. ya mungkin suka sepenuh hati karena Allah, bukan karena hasrat saja….. terima kasih atas sarannya ๐Ÿ™‚ saya rasa kita akan jadi teman baik suatu saat.

7 tahun dan terus berdetak….. 3 tahun lagi kita bisa aniversary pertikaian yang ke 10 tahun ๐Ÿ™‚

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Kita Agni

Posted: 8 November 2018 in renungan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

mata saya terbelalak membaca laporan Balairungpress http://www.balairungpress.com/2018/11/nalar-pincang-ugm-atas-kasus-perkosaan/ .

hmmm… semacam dna aktivis hidup lagi dari tidur panjangnya beberapa tahun kerja. marah, ini kasus besar. bukan karena beda almamater, ini soal kemanusiaan. kalau pun hal yang sama terjadi di almamater saya… tentu konfrontasinya akan jauh lebih keras, meski status saya adalah alumni. Kita agni… tagarnya, meski saya cuman bisa mengekspresikan kemarahan saya pada para birokrat ugm lewat tulisan saja. korban seharusnya dilindungi, dijaga hak nya. tapi karena ini para pejabat merasa meredam kasus ini adalah untuk melindungi nama baik.

jika ada rencana mungkin tanggal 19 saya cuti.ย  ke jogja mungkin . sekalian ke uin jogja

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Memilih untuk tetap waras

Posted: 5 Maret 2018 in renungan

Sumber : Steemt.com

Sumber : Steemt.com

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

ya dari sekian banyak tulisan saya ( meski gk seproduktif penulis ) inilah tulisan yang bukan soal teknis. Mungkin seperti curhat, buku diary masa kecil mungkin.

Akhir-akhir ini saya merasa suntuk, malas, semacam terpengaruhi oleh realitas bangsa yang saat ini sedang kacau, salah satunya informasi palsu. Banyak teman-teman saya yang pendukung salah satu calon dan pendukung calon lainnya masing-masing menshare segala macam tetek bengek soal jagoannya dan menyerang jagoan lawan.
Halo, fungsi sosial media buat silaturrahim, bukannya saling jelek-jelekan. meski kadang saya juga geregeten kalau ada informasi yang tidak benar, mencoba untuk diam dan
tetap waras. Ya paling tidak saya klo share itu soal jalan-jalan, naik gunung, dan soal adek bayi. Ah belakangan suka lihat video instagram bayi yang lucu-lucu, pengen punya :-).

Memilih untuk menutup telinga, menutup mata, dan mencoba tidak terpengaruh oleh teman-teman saya, meski kadang juga kalau salah ya sedikit klarifikasi bahwa informasi sebenarnya tidak seperti itu, syukur kalau terima. Ada banyak hal baik yang bisa diisikan ke kepala kita daripada sekadar pertarungan politik, hal hal yang menyenangkan dan membahagiakan. Searching – searching soal pendakian welirang nih. rencananya saya dan teman – teman mau naik Gunung Welirang 30 Maret 2018, untuk refreshing dan tetap menjaga kejernihan akal, pikiran, dan hati. Mengajak teman-teman smk nyambung silaturrahim. Saya gak mau ikut gendeng menjelang pilgub, pilkada, pilpres, pilleg, biarkan saja bapak-bapak politikus yang memikirkan itu, saya memilih untuk tetap waras.

Salam waras ๐Ÿ™‚
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Membaca Buku di Perpus Pocari

Posted: 20 Desember 2016 in renungan

image

Jadi…
Loh baru awal paragraf kok udah kesimpulan “jadi”. Ya saya terbiasa menulis yg singkat2 bukan yg berat2. Yg penting tidak dibuat2.
Saya sering menghabiskan waktu istirahat saya setelah makan siang, ke perpus dan membaca buku. Saya suka karangan Emha..masalah sosial masyarakat kita. Dibahas dengan bahasa sastra dan juga menggelitik kesadaran kita. Btw terima kasih kepada Pak Troy, meski saya jarang menyampaikan langsung. Saya yakin beliau yang memilih buku ini buat di perpus. Beliau Head of GA.
Di perpus baca beberapa halaman, kadang main catur oh ya kami punya club catur. Ada beberapa artikel soal catur di blog saya, bukan artikel sih tapi cerita kegiatan.
Saya punya banyak sekali koleksi buku emha.
Ini seb

image

agi

an.

Urip iku urup. Hidup itu menyala. Hidup sedapat mungkin bisa bermanfaat dan berkontribusi sebaik2nya kepada sekitar. Percuma memiliki pengetahuan tinggi namin tidak digunakan untuk kebaikan masyarakat sekitar, eh jangan jauh2 orang2 sekitar saja. Kira2 itu yg saya dapat. Apakah kehadiran saya membawa manfaat di lingkungan rumah, tempat kerja , masyarakat. Atau malah ngerepoti ?. Banyak orang2 hebat yg diceritakan di buku tersebut bukan orang dengan kedudukan, kepintaran, kekayaan. Namum mereka yg bersahaja. Yang john parkir udah tinggal yg seribu masjid.
Setelah itu sholat di masjid dan kalau sempat membaca satu ain Al Qur’an. Ya saya harus banyak belajar.udah gede gini bacaan masih banyak yang salah he he. Dikit2 yg penting rutin. Hudan teman saya yg misal saya bingun saya tanya dan berguru ke  dia soal membaca Al Qur’an.

Btw saya suka dengan design uang 10 ribu baru. Pak Frans Kaisiepo Seandainya saya bisa mengatakan alasannya. #encriptedcode

image